breastpump

[Review] Philips Avent Comfort Manual Breast Pump


1471891378239

Halo, jumpa lagi dengan Mama Arman (2tahun 5bulan) & Andini (1bulan).

Waktu sebulan itu benar-benar ga kerasa ya. Baru sebulan yang lalu, saya berdiskusi dan merencanakan kelahiran Andini bersama Obsgyn saya, kemudian kembali menyandang status ibu baru (lagi) mengurus bayi Andini lengkap dengan printilannya, dari mulai begadang ganti popok, menyusui, ngelonin plus… ngurusin si Abang Arman yang cemburu banget dan disapih secara paksa saat saya mulai masuk RS untuk persiapan operasi C-section (sesar) untuk kelahiran Andini.

Saya gagal memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama untuk Arman. Banyak penyebabnya. Antara lain, dari faktor internal, ya dari saya nya sendiri, bahwa saya sendiri yang ga yakin kalau ASI saya cukup untuk Arman. Efek Psikis itu luar biasa dampaknya, jadi ya ASI saya segitu-gitu aja dari waktu ke waktu, padahal semakin hari seharusnya produksi ASI saya semakin banyak sesuai dengan kebutuhan Arman.

(Baca juga : CeritASI : breast pump)

Faktor externalnya adalah saya terdoktrin bahwa bayi laki-laki memerlukan asupan lebih banyak daripada bayi perempuan sehingga PERLU ditambah susu formula. Bahkan saya dibekali container takaran susu formula. Dan bahwa bayi Arman lahir dengan berat 2,75 kg, dianggap kecil dan perlu diboost dengan susu formula.

Saya belajar dari pengalaman itu dan kali ini saya bertekad kuat untuk bisa lebih keras kepala untuk memberikan ASI untuk Andini. Saya harus keras kepala karena pentingnya ASI  untuk bayi :

1| ASI kaya akan zat penting yang dibutuhkan bayi dan kandungan ASI berubah sesuai dengan kebutuhan bayi

2| ASI memberikan kekebalan optimal bagi bayi

3| ASI mencegah konstipasi, mengurangi resiko obestitas dan diabetes

4| ASI mengurangi resiko infeksi, mencegah alergi dan asma, mencegah SIDS (Sudden Infant Death Syndrome), mencegah kerusakan gigi, mencerdaskan bayi.

Karena pentingnya ASI dan juga kegagalan menyusui sebelumnya, saya memerlukan perangkat yang mendukung proses menyusui, yaitu breastpump/pompa ASI.

Mengapa saya seorang Stay-at-home-mom dan tetap memerlukan pompa ASI?

Karena punya breastpump adalah salah satu trend kekinian. Hahahaha.

Karena kita tidak tahu kapan hal buruk terjadi *amit-amit*, misal kita harus masuk dirawat di RS dan proses memberikan ASI menjadi terhenti lantaran kita mengkonsumsi obat-obatan dan tidak memiliki cadangan ASIP.

Breast pump menjadi salah satu barang yang masuk dalam persiapan saya saat akan  melahirkan bersama dengan pembalut ibu melahirkan, gurita korset, dan sebagainya. Saat itu saya bertekad, saya ingin menstimulasi produksi ASI saya tepat setelah lahiran Andini. Namun, itu tidak kesampaian. Hahahaha.

Untuk pencapaian ASI eksklusif untuk Andini, Alhamdulillah ada Philips Avent Comfort Manual Breast Pump SCF 330. Philips AVENT melalui inovasi bermakna membantu para ibu memberikan yang terbaik di awal kehidupan sang buah hati. Apa saja inovasi Philips Avent ini?

1| Pompa ASI dengan Bantalan pemijat

Bantalan pemijat ini berupa lapisan silicon yang diletakkan pada corong. Bantalan pemijat ini membuat ibu lebih nyaman sehingga lebih banyak susu secara alami. Ketika kita merasa nyaman dan santai, ASI akan mengalir lebih lancar.

Pengalaman saya ketika pertama kali mencoba Silikon ini beneran memberikan efek memijat dan relax. Saya terlalu bersemangat memompa sehingga melupakan fakta bahwa pada pompa ASI manual, penggunalah yang menentukan seberapa kuat daya sedot pompa terhadap payudara. Dan saya menekan tuas pompa sampai pol, puting saya terjebak di antara ujung silicon saat berada di dalam corong sehingga agak sulit untuk dikeluarkan.

Saran saya, jika hal itu terjadi, sesuaikan sedotan pompa dengan menekan tuas pompa secukupnya sehingga menemukan daya sedot pompa yang nyaman.  Kapok? Tentu tidak! Belajar dari pengalaman tersebut, saya bisa mengatur daya sedot yang nyaman. Namun, jika kiranya puting lebih besar dari diameter silicon, bantalan yang lebih besar bisa dibeli terpisah.

F400041466-FIL-global-001

2| Breastpump yang memungkinkan memompa tanpa harus duduk condong ke depan

Pompa ASI ini memiliki desain yang unik sehingga ASI akan mengalir langsung dari payudara kebotol. Hal ini memungkinkan untuk duduk lebih nyaman saat pemompaan. Ga perlu lagi untuk mencondongkan badan untuk memastikan seluruh ASI masuk ke dalam botol. Duduk lebih nyaman dan tenang saat pemompaan, secara natural membantu aliran ASI lebih mudah lancar. Pengalaman saya, breastpump ini mudah banget dioperasikan satu tangan. Saya bisa memompa sembari duduk santai senderan sembari cek sosmed atau menonton tivi. Ngetik postingan ini juga sembari mompa 🙂 #IbunyamanASIlancar

F400034927-FIL-global-001

3| Praktis

Breastpump Philips Avent Comfort Manual Breast Pump SCF 330 memberikan kemudahan memadukan pemberian ASI langsung dari botol natural 125 mL karena terdapat dot untuk yang di desain khusus menyerupai bentuk payudara sehingga memudahkan perlekatan seperti menyusui langsung.

Philips Avent Comfort Manual Breast Pump SCF 330 mudah digunakan, disimpan dan dibawa karena desainnya yang ringan dan compact. Pengoperasian manualnya pun mudah.

Desain kompak memudahkannya untuk diposisikan. Pegangannya yang dibentuk secara ergonomis memberikan kenyamanan saat memegang dan kontrol penuh saat mengeluarkan ASI. Ukurannya yang kecil dan ringan, membuatnya mudah disimpan dan dibawa dan membuat memompa di perjalanan lebih nyaman.

Perakitan intuititf Philips Avent Comfort Manual Breast Pump SCF 330, mudah dipasangkan dan cocok dengan produk Philips Avent lainnya.

Cara membersihkan Philips Avent Comfort Manual Breast Pump SCF 330 pun mudah karena hanya sedikit bagian yang terpisah dan semua bagian bisa disteril dan dapat dibersikan dengan mesin cuci piring.

F400041485-FIL-global-001

Selain ketiga point tersebut, satu lagi kelebihan Philips Avent Comfort Manual Breast Pump SCF 330 adalah LDR (Let Down Reflex) yang cepat. Ini penting banget, karena kurang dari semenit, sudah terlihat kucuran ASI. Hal ini yang membuat saya semangat dan berusaha disiplin untuk memompa secara teratur demi produksi ASI yang cukup.

Juga, adanya cakram penutup untuk menutupi corong sehingga bagian dalam Philips Avent Comfort Manual Breast Pump SCF 330 tetap higienis. No more sumpel-sumpelan tisu di corong breastpump 😀

Juga, beneran bisa mengosongkan payudara! senangnya….!

Satu paket Philips Avent Comfort Manual Breast Pump SCF 330 ini berisi :

  • Pompa ASI dengan pegangan : 1pcs
  • Bantalan ukuran standar : 1 pcs
  • Botol Natural 4oz : 1 pcs
  • Dot Newborn Flow extra lembut : 1 pcs
  • Travel cover (penutup botol) : 1 pcs
  • Cakram penutup untuk  wadah penyimpan ASI : 1 pcs
  • Sampel breastpad : 2 (2 bantalan siang& 2 bantalan malam)

Harga sekitar 750K.

Untuk para ibu baru, punya breastpump Philips Avent Comfort Manual Breast Pump SCF 330 merupakan investasi berharga dan sangat amat disarankan untuk penyemangat meng-ASI.

Ayo semangat meng-ASI!!!

Temukan info lainnya di facebook dan website Philips Avent Comfort Manual Breast Pump SCF 330 

 

ceritASI : Breastpump


Aloha, jumpa lagi dengan saya :).

Kali ini mau cerita2 tentang ASI dan breastpump.

Jadi, begini ceritanya…

Menjelang lahiran, saya sempet minta kisi2 ke temen2 SD yang sudah berpengalaman menjadi ibu pro ASI. Dan, salah satu topiknya ya Breastpump (pompa ASI).

Temen saya si M, bilang kalau saya cuma ibu RT biasa yang fulltime di rumah, ga perlulah pake breastpump. Buat apa? kalo anak laper ya tinggal dinenenin, habis perkara toh? Lagian kalo ASIP itu hanya untuk jaga2 kalo si ibu masuk RS atau sebab lainnya sehingga tidak bisa menyusui langsung. Dan doi itu pro memerah ASI manual dengan jari, tanpa breastpump dengan alasan penampakan nipple jadi gag munjung banget. Jadi, doi sih ga rekomen merk breastpump apapun sebagai jawaban untuk pertanyaan saya.

Teman saya si L, rekomen breastpump suatu merk.

Karena saya nanyanya sekitar bulan ke 6 kehamilan, pas udah lahiran mendadak pikun atas jawaban mereka. Di minggu pertama abis lahiran, saya browsing dan menemukan suatu pencerahan bahwa breastpump itu bisa mengosongkan payudara. Padahal hisapan bayi juga ga kalah hebatnya mengosongkan payudara yah. Hihihi. Browsing2 lah saya mencari merk breastpump beserta tipenya, dengan bayangan setelah punya breastpump makin banyak ASI yang bisa saya perah dan stok di frizer kaya ibu2 yang ASInya melimpahruah itu loh.

Setelah menimbang2 dan melihat dompet, akhirnya jatuhlah pilihan ke Medela Harmony. Breastpump manual yang saya beli di ITC Cempaka Mas dengan harga sekitar 550rb (nitip sama adik yang kebetulan lagi kesana). Buset, breastpump tuh harganya mihil2 beud ya… Breastpump ini menurut saya lumayan enak. Bisa dibawa kemana2, gag ada suara bising, ga begitu pegel juga sih mengoperasikannya. Ya lumayanlah, ga kecewa gitu.

Percaya gag percaya, malemnya saya terima breastpump, langsung dicuci dan steril lalu mulai pompa perdana disaksikan suami yang juga penasaran akan kehebatan breastpump yang saya promosikan. Ternyata, sama aja tuh hasilnya. Sekitar 30ml saja. Tapi, paginya… entah seneng punya breastpump baru atau kemaren overdosis katuk 2 mangkok atau sebab lainnya, sekali pompa dapet 80ml. Wawww… itu miracle bingit!

IMG-20140405-00758

trus, setelah saya pompa saya apain? ya saya kasih ke si Arman. Aneh ya? kenapa ga langsung aja dikasih ke Arman? Karena eh karena, saya penasaran, sebenernya Payudara saya tuh bisa menghasilkan berapa ml ASI sih? Apa iya beneran ga cukup untuk Arman?

Dan selalu begitu siklusnya, pompa-kasih-pompa-kasih, alhasil ga punya stok bertahan sampe lebih dari beberapa jam dikulkas. Sayanya sendiri sih mulai ga yakin kalo ASI saya ga cukup, mangkanya terus2an mompa demi mengukur kuantitas produksi ASI saya.

Trus bener kalo breastpump bener2 ngosongin payudara? hm… kalo pengalaman saya sih engga juga tuh, ya ga sampe kempes pes pes bingit. Ya biasa aja, ya benjolan2 keras pertanda ‘ASI beku’ sih menghilang kalo dipompa.

Kalo working mom kan punya jadwal khusus untuk mompa dan nyusuin langsung, kalo saya justru malahan kejar2an dan awut2an gag jelas. Jadwal mompa 2jam sekali, jadi molor2 karena tiba2 si Arman maunya nete langsung dan doi kalo udah nenen gag jelas kapan selesainya. Sambil tidur aja mulutnya masih ngisep. Kacau balau deh jadwal pompa. Sampe minta saran sama sobat kental gimana cara ngatur jadwal mompa.

Sobat kental saya itu mompa tiap 2jam sekali. Nete langsung juga 2 jam sekali diantara jadwal mompa. Contoh : mompa jam 8, 10, 12 dsb. Netein langsungnya jam 9, 11, 13 dsb. Tapi masalahnya, saya ragu, apa iya kuantitas ASI sejam sekali itu cukup buat si bayi? Dan pertanyaan masalah jadwal ini terus berputar2 di kepala saya.

Sampe akhirnya ada kerabat yang berkunjung dan ngasih pencerahan lagi. Kalimatnya yang saya kutip adalah : makin sering payudara dikosongin, makin cepet ASI diproduksi. Coba dipompa sejam sekali dan dikosongin. Kalo udah ga bisa dipompa, coba pake cara manual, pake jari. Sampe bener2 kosong song song song.

Saya ternganga, emang 1jam udah ada ASI nya? Entah gimana, gegara bayi harus disusuin 2jam sekali malahan saya terdoktrin bahwa ASI diproduksi tiap 2jam sekali. tewewewew….

Mulai puter otak dan browsing. Ada yang caranya ‘menipu’ otak untuk memerintahkan memproduksi ASI untuk anak kembar dengan cara dikosongkan bersamaan, yaitu 1 payudara dinenenin ke si anak, yang satunya lagi dipompa pada saat yang bersamaan. ATAU dipompa berbarengan dengan breastpump double untuk 2 payudara sekaligus.

kedua opsi itu saya praktekkan. Untuk nenenin sekaligus dipompa, itu preparasinya lumayan ribet. Kitanya posisi duduk dan menyusun bantal untuk ganjelan dan alas si bayi. Si bayi pun posisinya bukan seperti perlekatan biasa dimana kepala+badan bersentuhan langsung dengan si ibu. Yang bersentuhan hanya muka si bayi, sementara badan si bayi ke arah luar badan si ibu. Tapi ya balik lagi, timbul kekhawatiran, cukup ga sih ASI dari 1 payudara? Galau.

Untuk pompa 2payudara sekaligus juga saya praktekkan. Browsing2, liat2 harga breastpump double dari Medela Maxi, Medela Swing sampe Medela Freestyle. Saya sih familiarnya sama Medela, jadi berharap ga perlu adaptasi dan belajar lagi kalo make produk Medela. Ternyata, harganya ga bersahabat di dompet, akhirnya cari rentalan. Rentalan pun harganya bervariasi. Sampe akhirnya saya nemu rentalan yang lumayan bersahabat harganya, dapetlah Medela Mini Electric Plus. Hampir sama dengan Medela Mini Electric (minel) yang single dan berisik itu, tapi ini 2 pompa!

Mulailah memerah dengan pompa double ini selama beberapa bulan. Saya mompa tiap 45menit sekali dan diperlukan 45×3 menit untuk mendapatkan 100ml total dari payudara kanan+kiri (bukan masing2 loh). Mompanya malem, setelah Armannya tidur. Kalo doi terbangun, langsung buru2 manasin stok ASIP,  kasih sebentar dan doi tidur lagi. Paling malem nunggu jadwal pompa sampe sekitar 02.30 dini hari. Ga tiap hari sih, sekuatnya aja sampe jam berapa. Berapapun hasil perahan, tetep jadi stok, walau kadang cuma basahin botol tampungan breastpump doang. Hiks.

Oiya, kadang ASI yang cuma basahin botol tampungan breastpump berasa gimana gitu. Banyakan air+sabun+gas yang terbuang untuk ngebersihin dan sterilin breastpump tiap kali abis perah. Tadinya, tiap kali perah, ASIPnya saya pindah ke botol selai kaca, trus Breastpumpnya saya cuci+sterilin. Sampe akhirnya, besar pasak daripada tiang kalo gini. Saya males juga lah, pompanya cuma seucrit, cape ngebersihinnya aja. Tanya2 sama Mama Lana, doi bilang kalo doi mompa di kantor juga gag mungkin tiap kali perah disteril, dibilas aja pake air panas dispenser, sterilnya seminggu sekali. Ahaiii… tercerahkan. Akhirnya, tiap kali abis perah, dibilas pake air panas supaya bersih dan siap untuk merah lagi. Biasanya nanti yang sterilin breastpump adalah si bapake sekalian doi nyuci2 botol. Hihihi.

Untuk stok ASIP, saya pake botol kaca bekas selai. Tiap botol udah saya takarin 100ml. Pas si Arman udah banyakan dosisnya, sekitar 120ml, saya takarin 1botol isi 100ml+1 botol lagi isi 20ml. Jadi nanti pas manasin udah langsung tinggal nuang2 aja, ga usah ngukur2 lagi.

Hihihi lika liku ASI ngepas dan breastpump emang banyak ceritanya terutama cerita2 yang bersifat teknis, yang mungkin bakalan ada orang yang baca bakalan bilang, “masa kaya gitu aja ga tau?”. Ya emang saya ga tau dan hanya senalarnya saya aja. Yang penting prioritas utama, ASI saya cukup untuk si Arman.

Begitu ceritASI Breastpump saya. Ribet? Ya gitu deh, namanya juga usaha. Hihihi.

Sampai jumpa di cerita lainnya 🙂

POSTNATAL : ASI


Alohaaa…

Ini postingan rapel sembari nunggu jadwal nyusu si Arman saat diare.

Kali ini mau cerita2 tentang ASI.

Jadi, di kehamilan ini, saya dan suami sudah sepakat untuk bertekad memberikan ASI Ekslusif ke si jabang bayi. Yak, sekali lagi, niat dan tekad bulat itu diperlukan untuk booster si ASI supaya ngucur dulu. Namun, tekad bulat saja tidak cukup, penuh aral dan rintangan.

Proses menyusui itu, awalnya SAKIT. Karena si ibu dan si bayi sama2 nyari titik pas untuk sama2 nyaman dan enak ketika menyusui dan itu sekali lagi, SAKIT. Trus? ya sakitnya ditahan2in aja, lama2 juga biasa, lama2 juga kebal, lama2 juga ketemu posisi PW nyusuin. Lama2 juga mahir, sembari netein, sembari megang henpon. Saya? Awalnya 22 tangan fokus ke prosesi tersebut. 1 megangin bayi, 1nya lagi menekan payudara supaya gag nutupin hidung si bayi. Ternyata, posisi perlekatannya salah, setelah dibenerin, baru deh 1 tangan yang tadinya mencegah hidung si bayi ketutup, bisa dialihkan ke yang lain, yaitu megang henpon. Hihihi.

Saat saya masih hamil pun, saat ketauan jenis kelamin si bayi adalah laki2, saya sudah ‘diwanti2’ kalo anak cowo itu nyusunya kuat, HARUS ditambah susu formula. Bahkan saya juga sudah dibekali sama milk container 4 susun untuk naro susu bubuk yang sudah ditakar, tinggal tuang+seduh dengan air panas kalo mau diberikan ke bayi.

Dan wanti2 tersebut ternyata makin santer terdengar saat saya di rumah sakit dan pulang ke rumah. Semua tamu yang dateng kayanya bakalan pernah denger wantian tersebut. Sempet curhat juga sama tamu yang dateng mengenai isu itu, tapi katanya, “cuekin aja, anggap aja angin lalu. Jangan stress, jangan dimasukin ke hari, nanti pengaruh ke produksi ASI loh”. Noted. Cuma, masalahnya kalo dengernya sehari 5x  mah masuk ke kuping dan masuk ke hati juga. Hahahaha. 

Cobaan ASI ga cuma sampe di situ. Entah karena orang berasumsi bahwa susu itu penampakannya selalu sama seperti itu (warna putih pekat dan kental), ASI itu harus deras sederas air terjun, ASI itu adalah salah satu bentuk susu. Dan ASI sayalah di komplen dan dibully karena ASI saya encer dan warnanya putih transparan. Gag seperti susu2 cair kemasan yang putih pekat dan kental. Sehingga ASI saya dinyatakan kurang berkualitas. Kesian ya nasib ASI saya, gag salah apa2 eh dibully.

Lanjut tentang kuantitas. Saya kadang heran, orang2 dapet asumsi darimana ya kalo ASI itu harus selalu ngucur sederas air terjun Niagara dan banyak saat pertama kali ‘launching’. Kalo gag deras dan gag banyak, ya gag bagus. Lagi2 dibully :(. Kesian nasibmu wahai ASIku. Kenyataannya, ASI saya keluar. Tapi, banyak atau engganya, saya sih ga peduli. Saya sumpelin aja ke mulut si Arman. Cuma, sayangnya, saya kok ga ngeh untuk menyusui tiap 2jam. Selama di RS dan hari2 awal di rumah, saya susuin setiap kali dia nangis aja. Oiya, si Arman sempet kuning. Kebanyakan, bayi kuning harus sering2 dipaksa nyusu per 2 jam sekali, bahkan ada yang menganjurkan sejam sekali supaya kuningnya cepat hilang. Nyatanya, bayi kuning itu tidurnya lumayan lama, jadi ya kebayang berapa kali saya susuin dia. Yang pasti gag 2jam sekali.

Masih tentang kuantitas. Saya sekali lagi gag menyalahkan si ASI yang awal2 mungkin keluarnya gag sederas air terjun Niagara. Saya anggap itu sebagai bentuk efisiensi tubuh kita karena newborn hanya membutuhkan sedikit ASI dan kemudian akan terus bertambah, seiring dengan frekuensi kita menyusui. Jadi, harusnya ASI dikit di awal paska lahiran jangan dijduge langsung, ASInya dikit. Istrinya teman saya, 3 hari ASInya ga keluar. Tapi si dokter dan suster tetap memberi semangat untuk menyusui dan hasilnya? Anaknya gemuk banget berkat ASI. Satu payudara, sekali dipompa bisa dapet 100ml lebih! Ya, saya sih ga seberuntung itu, tapi masih ada harapan kok walau di hari2 awal ASI belum keluar :D.

Tentang support dari orang2 terdekat. Konon dan faktanya kuantitas produksi ASI sejalan dengan psikis si ibu. Kalo si ibu stress, ya kemungkinan ASInya se encrit. Tapi kalo si ibu hepi, ASInya bisa membludak :D. Untuk kasus saya, hm… saya sih ga seberuntung 100ml per payudara. Mangkanya saya mengkaji ulang sendiri. Apa sih yang kira2 salah dengan diri saya?

Balik lagi ke psikis, pikiran. Pikiran dan psikis harus hepi dan selalu positip dan PERCAYA kalo ASI kita cukup. Untuk menciptakan pikiran dan psikis yang hepi perlu dukungan dari orang2 terdekat. Terutama, si bapake. Spog saya sih menyarankan supaya bapake berperan juga dalam program ASI ini dengan memberikan pijatan ASI di punggung sekitar tulang belakang untuk memperlancar ASI saat saya menyusui. Pijatan ini sih diterapkan, tapi ya hanya beberapa kali saja. Hihihi. Kurang total yak bapake di part ini, tapi di part lain seperti gantiin popok, doi bisa diandalkan kok ;p.

Ga hanya bapake, tapi juga orang2 sekitar yang ada dalam keseharian kita. Menurut saya, mereka perlu diedukasi dengan tidak terus2an memberikan doktrin bahwa anak cowo nyusunya lebih kuat dan harus ditambah susu tambahan. Doktrin tersebut, lambat laun mengikis kepercayaan diri juga. Itulah sebabnya pasangan menikah lebih baik langsung pisah rumah sama ortu untuk meminimalisir isu2 negatip berdasarkan pengalaman dan tradisi. Huahahha.

Perasaan hepi? hm… kayanya sih, saya sempet menderita Baby Blues syndrome. Gejalanya ya kecapean, kewalahan, sebel sendiri, kesel sendiri. Kebingungan sendiri dengan perbedaan rutinitas. Sekarang fokusnya adalah Arman, Arman dan Arman. Pernah seharian, si Arman nempel (baca : nenen) aja. Jadi ya sayanya di tempat tidur aja dengan gaya udah awut2an. Hepi? Ya tentu tidak. Stress, iya! Sebelll banget ga bisa beraktipitas. Rumah berantakan, makan ga sempet, mandi gag sempet, cucian piring numpuk, baju kotor juga numpuk, setrikaan numpuk. Ditambah, tamu terus2an berdatangan. Bikin dilema juga sih, lagi adaptasi gini, eh dikunjungi, berantakan lah jadwal netein per 2 jam sekali karena sayanya ga kepikiran punya apron untuk menyusui jadi bisa menyusui dan ngobrol sama tamu. Mau gag mau nemenin tamu ngobrol2 hahaha hihihi.

Aihhhh banyak hal yang harus dikerjakan dan ga bisa! Kesel sendiri kenapa kok cuma saya doang yang cape ngasuh? Bapake cuma ganti popok aja kadang2 nolak. Bangun malem gag mau, emaknya juga yang bangun. Ihhhh… emaknya kan juga manusia, butuh istirahat, gag melulu begadang. Dan berimbas lah pada produksi ASI, sayanya stress pikiran baby blue ditambah was2 ASI ga cukup. Kombinasi yang cucok!

ASI saya dibilang banyak, ya ga juga sederas air terjun walau ga bisa stok berbotol2 kaya ibu2 lainnya, di bilang dikit juga engga. Hal ini sih terbukti saat si Arman berusia 7hari, saya iseng2 nyoba merah ASI manual, pake tangan, tanpa bantuan apapun. Dapet 30ml! Untuk usia bayi seminggu sih segitu udah lumayan cukup. Cuma, saat merah itu PD-ga-PD lantaran blom ngerti gimana cara nyimpennya etc. Juga saat saya pertama kali punya breast pump sekitar H+14, saya sempet pompa dapet nyaris 100ml! Amazing kan? Saya aja gag percaya. Hihihi. Jadi, ya sebenernya sih ASI saya kayanya cukup.

Kok kayanya? Iya, kan kalo nyusuin langsung, kita ga tau si bayi udah ngisep berapa ml. Cuma bisa diliat dari kenaikan berat badan si bayi. 

Dengan kekhawatiran ASI ga cukup itulah, kemudian saya minta booster ASI ke Spog, ke DSA, ke bidan. Saya udah nyobain Perimperan, Vosedon, Molocco, Vomate, Teh Booster ASI, Milmor, sayur katuk dari 1x sehari sampe 2x sehari. Hasilnya? Ya segitu2 aja. Kayanya emang efek psikis benar2 berpengaruh dan benar2 ASI saya segitu2 aja, ga sejalan dengan kebutuhan Arman.

Bosen dengan booster ASI saya inget kalo semakin sering payudara dikosongin, semakin cepet ngisinya. Saya pun inisiatip nyoba pompa dobel elektrik. Makin deg2an perasaan kejar tayangnya. Dari pompa 2jam sekali @15-30 menit, sampe 45menit sekali dengan durasi yang sama, hasilnya? sama aja. Balik lagi ke faktor psikis. Sayanya dikejar2 deadline dan ga relax. Hasilnya? Maksimal total 90ml, minimal 60ml.

Sampe akhirnya, grafik pertumbuhan si Arman dari bulan ke 2 ke bulan ke 3 flat. Yang artinya ga ada kenaikan BB, dan baru diketahui saat saya kontrol Arman di bulan ke 4. Bulan ke 2 sih Dsa nya bilang, kenaikan BB nya berada di ambang bawah, tapi kalo saya masih semangat ASI, ya dilanjut aja. Tapi ternyata pertumbuhannya ternyata agak terlambat. Saya dikasi opsi, MPASI dini di 4bulan atau tambah sufor. Karena ketidakrelaan, saya awalnya milih MPASI dini, tapi setelah dipikir2 lagi dengan kondisi pencernaan Arman, akhirnya dengan berat hati terpaksa memilih sufor. Dan dimulai dengan susu NanHA 1 lantaran suami saya ada alergi debu padahal itu susu untuk yang alergi susu sapi, bukan debu. Arman ga suka NanHA dan berakhir dengan sembelit disertai darah di BABnya, balik lagi ke ASI tanpa stok ASIP, jadi terus2an aja nempel. Tanya2 merk sufor, ada yang rekomen merk A bagus dan harga agak mahal, tapi anaknya jadi aktip banget. Merk B, murah tapi kadar gulanya tinggi sehingga menyebabkan sering sariawan dan gigi keropos. Akhirnya, saya nganterin ade ipar ke Alpam*rt, si ade belanja, saya liat2 kandungan susu. Saya banding2in kandungan dan harga susu2 tersebut dan jatuhlah pilihan pada Frisian Baby. 

Alhamdulillah suka, masih terjangkau dan gampang dicari. Jadi sejak 4bulan, Arman resmi dicampur susunya, ASI+sufor untuk mengejar berat badan. Sejak itu, saya jadi lebih relax dan ga ada perasaan kejar tayang dan setiap kali mompa, bisa mencapai angka 100ml. Cuma ya sering ga nyadar aja kalo udah 2 jam, dan harus dikosongkan, akibatnya kadang Bra basah atau malahan netes2 :(. So, sebenernya ASI saya pun bisa dibilang banyak. 

Postingan saya ini sih cuma pengalaman saya aja, tanpa mau menjudge ibu2 pro sufor itu salah dan ibu2 pro ASI sepenuhnya benar. Saya sih yakin, para ibu punya pertimbangan khusus yang matang dan pastinya terbaik untuk anaknya mengenai ASI ataupun sufor. 

Mulai ngantuk. Sekian dulu cerita ASI nya, nanti dilanjut lagi 🙂