Andini

Dirawat Karena Diare, 2 kali


1 syawal 1438 H, 25 Juni 2016, Minggu.

Hari Lebaran pertama dan saya di RS langganan, menunggu si cantik Andin yang dirawat karena diare.

Awalnya, sejak jumat siang kok si Andin udah lebih dari 3x pup dan mencret pula. Belum demam sih, jadi saya masih tenang stok Lacto-B dan DaryaZinc. Juga beli Pedialite (elektrolit khusus anak2 kemasan 500ml harganya 30rb an beli di Apotik K24). Sayangnya Pedialitenya tinggal yang rasa bubblegum (warna pink) dan anaknya ga suka, jd ga diminum sampe expired.
Pedialite ini expired 24jam setelah dibuka.

Jumat malam semakin demam. Yang tadinya cuma 37, naik jadi 38. Tidur pun ga pules. Bentar2 bangun, berantai, abangnya juga ikutan bangun. Kasi tempra drop, turun sebentar lalu naik lagi.

Sabtu pagi, demamnya naik jadi 39. Punya stok proris obat penurun panas yang untuk dimasukkin ke dubur, tapi pengalaman sebelumnya kayanya Andin alergi sama ibuprofen, yang waktu itu reaksinya bentol2, merah2 ruam di muka, perut, punggung tapi ga gatel. Akhirnya stuck pake parasetamol yang efek nurunin panasnya agak lambat.

Sabtu pagi, akhirnya bawa ke IGD. Pas daftar ke front desknya, si mbaknya sampe bilang, “kayanya kemaren baru dirawat?”
Iyes. Awal bulan ini baru aja dirawat.

image

Suhunya udah 40! Sampe saya nanya ke susternya, ini termometernya rusak atau beneran 40? Coba pake termometer lain dan tetep aja 40!
Menurut observasi dokter IGD, Andin masih belum dehidrasi parah tapi mendengar laju mencretnya yg mulai sering beliau khawatir kalo ga dirawat, bisa ga kekejar suplai cairannya.
Apalagi, dia ga mau minum susu, maunya nen aja, ya tau sendiri ASI saya ga bleber sampe berfreezer2. Ya kalo disedot, ada. Gitu aja sih.

Akhirnya, diputuskan untuk dirawat. Syukurlah bisa ditanggung BPJS. Dokter anak yang bertugas langsung visit pas di IGD. Kamar inap dapet sesuai jatah BPJS, kelas 1. Langsung diinfus.
Masuk paracetamol injeksi. Konsumsi zinc dan lacto-b oral.

image

Feses dicek lab. Positip, disentri amuba karena feses berwarna hijau, berlendir dan berdarah. Selain itu, dia menggigil banget, telapak kaki dingin dan memutih. Serem banget. Diare paling bahaya, kata dokter anaknya pas visit sorenya. Dokter ini visit 2x dalam sehari. Terharu. Padahal kita pasien BPJS loh.
Dokter nyaranin kita harus pake obat Flagyl, anti bakteri. Kalopun ga ditanggyng BPJS, usahakan untuk nyari diluar dan harus pake obat itu. Syukurlah dicover BPJS. Alhamdulillah.

image

Sebagai bahan introspeksi, saya nanya disentri amuba itu apa penyebabnya. Dokter ga bisa bilang apa penyebabnya, bisa aja dari makanan, air, udara.
Orang gedongan aja juga bisa kena disentri amuba.

Sobat kental saya juga kena disentri amuba selama 2minggu, dan untungnya ga isded. Dia nya mah santai aja -_-.

Flagyl, lacto b, zinc udah masuk oral. Paracetamol juga udah masuk diinjeksi. Tapi panas tetep 39, ga turun2. Karena PCT hanya boleh diberikan minimal 4jam sekali, selama panas belum turun, saya lakukan surface cooling.

Surface cooling itu menurunkan suhu tubuh dari permukaan dengan cara kompress air cenderung panas di daerah lipatan, agar tubuh bereaksi untuk menurunkan suhu.

Saya sih oke2 aja surface cooling, masalahnya anaknya yang ga mau dikompress. Rewel aja semaleman. Ga mau tidur, pasien bed sebelah yang kena tipes sampe menyingkir ke kamar sebelah. Ya namanya juga anak sakit, blom bisa ngomong, ya bisanya nangis aja sepanjang malem. Mau gimana lagi?

Katanya perutnya Andin berasa sakit, melilit, ngeden2. Selama nangis2 rewel, ditawarin nen, main, minum, ini, itu, ga mempan. Ya namanya sakit tapi ga bisa diungkapin, mungkin stress jg dianya. Begitu crot crot, mulai tenang. Mau mulai tidur, sembari digendong, jalan2. Begitu ditaro di bed, bangun lagi. Sungguh, jadi ortu itu sesuatu. Harus sabar, harus kuat, harus ikhlas. Masa mau komplain sama anak yang kesakitan.
Ya Allah, ternyata begitu dulu ya ortu mengasuh kita. Ga semudah dan se smooth di sinetron2.

Oiya, Andin selama diare dan dirawat di RS dia tetep pake diaper dan pake salep Myco Z supaya ga ruam popok. Kalo diare, pasti ruam popok karena pantat sering basah, apalagi kena pup.

Visit dokter pagi tadi, masih mencret, masih demam, ga bisa tidur, ga mau makan, masih rewel, mata bengkak karena ga tidur dan nangis terus. Akhirnya dokter kasi antibiotik, obat anti radang. Obat masuk, Andin agak tenang. Mau tidur di bed sembari nen, walau masih mencret.

image

image

Siang, dia tidur agak lamaan. Bangun2 duduk dan cium2 mamanya. Terharu. Dan seneng, dia udah agak ceria. Diajak makan, mau, meski cuma sedikit drpd ga sama sekali.

Sekarang jam 8 malem dan dia masih tidur dengan manisnya. Kebangun sebentar lantaran ada pengumuman blue code 215 (??).
Dan ibunya, ngedraft blog.

image

Semoga Andin malam ini bisa tidur nyenyak ya.

Advertisements

[Review] Philips Avent Comfort Manual Breast Pump


1471891378239

Halo, jumpa lagi dengan Mama Arman (2tahun 5bulan) & Andini (1bulan).

Waktu sebulan itu benar-benar ga kerasa ya. Baru sebulan yang lalu, saya berdiskusi dan merencanakan kelahiran Andini bersama Obsgyn saya, kemudian kembali menyandang status ibu baru (lagi) mengurus bayi Andini lengkap dengan printilannya, dari mulai begadang ganti popok, menyusui, ngelonin plus… ngurusin si Abang Arman yang cemburu banget dan disapih secara paksa saat saya mulai masuk RS untuk persiapan operasi C-section (sesar) untuk kelahiran Andini.

Saya gagal memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama untuk Arman. Banyak penyebabnya. Antara lain, dari faktor internal, ya dari saya nya sendiri, bahwa saya sendiri yang ga yakin kalau ASI saya cukup untuk Arman. Efek Psikis itu luar biasa dampaknya, jadi ya ASI saya segitu-gitu aja dari waktu ke waktu, padahal semakin hari seharusnya produksi ASI saya semakin banyak sesuai dengan kebutuhan Arman.

(Baca juga : CeritASI : breast pump)

Faktor externalnya adalah saya terdoktrin bahwa bayi laki-laki memerlukan asupan lebih banyak daripada bayi perempuan sehingga PERLU ditambah susu formula. Bahkan saya dibekali container takaran susu formula. Dan bahwa bayi Arman lahir dengan berat 2,75 kg, dianggap kecil dan perlu diboost dengan susu formula.

Saya belajar dari pengalaman itu dan kali ini saya bertekad kuat untuk bisa lebih keras kepala untuk memberikan ASI untuk Andini. Saya harus keras kepala karena pentingnya ASI  untuk bayi :

1| ASI kaya akan zat penting yang dibutuhkan bayi dan kandungan ASI berubah sesuai dengan kebutuhan bayi

2| ASI memberikan kekebalan optimal bagi bayi

3| ASI mencegah konstipasi, mengurangi resiko obestitas dan diabetes

4| ASI mengurangi resiko infeksi, mencegah alergi dan asma, mencegah SIDS (Sudden Infant Death Syndrome), mencegah kerusakan gigi, mencerdaskan bayi.

Karena pentingnya ASI dan juga kegagalan menyusui sebelumnya, saya memerlukan perangkat yang mendukung proses menyusui, yaitu breastpump/pompa ASI.

Mengapa saya seorang Stay-at-home-mom dan tetap memerlukan pompa ASI?

Karena punya breastpump adalah salah satu trend kekinian. Hahahaha.

Karena kita tidak tahu kapan hal buruk terjadi *amit-amit*, misal kita harus masuk dirawat di RS dan proses memberikan ASI menjadi terhenti lantaran kita mengkonsumsi obat-obatan dan tidak memiliki cadangan ASIP.

Breast pump menjadi salah satu barang yang masuk dalam persiapan saya saat akan  melahirkan bersama dengan pembalut ibu melahirkan, gurita korset, dan sebagainya. Saat itu saya bertekad, saya ingin menstimulasi produksi ASI saya tepat setelah lahiran Andini. Namun, itu tidak kesampaian. Hahahaha.

Untuk pencapaian ASI eksklusif untuk Andini, Alhamdulillah ada Philips Avent Comfort Manual Breast Pump SCF 330. Philips AVENT melalui inovasi bermakna membantu para ibu memberikan yang terbaik di awal kehidupan sang buah hati. Apa saja inovasi Philips Avent ini?

1| Pompa ASI dengan Bantalan pemijat

Bantalan pemijat ini berupa lapisan silicon yang diletakkan pada corong. Bantalan pemijat ini membuat ibu lebih nyaman sehingga lebih banyak susu secara alami. Ketika kita merasa nyaman dan santai, ASI akan mengalir lebih lancar.

Pengalaman saya ketika pertama kali mencoba Silikon ini beneran memberikan efek memijat dan relax. Saya terlalu bersemangat memompa sehingga melupakan fakta bahwa pada pompa ASI manual, penggunalah yang menentukan seberapa kuat daya sedot pompa terhadap payudara. Dan saya menekan tuas pompa sampai pol, puting saya terjebak di antara ujung silicon saat berada di dalam corong sehingga agak sulit untuk dikeluarkan.

Saran saya, jika hal itu terjadi, sesuaikan sedotan pompa dengan menekan tuas pompa secukupnya sehingga menemukan daya sedot pompa yang nyaman.  Kapok? Tentu tidak! Belajar dari pengalaman tersebut, saya bisa mengatur daya sedot yang nyaman. Namun, jika kiranya puting lebih besar dari diameter silicon, bantalan yang lebih besar bisa dibeli terpisah.

F400041466-FIL-global-001

2| Breastpump yang memungkinkan memompa tanpa harus duduk condong ke depan

Pompa ASI ini memiliki desain yang unik sehingga ASI akan mengalir langsung dari payudara kebotol. Hal ini memungkinkan untuk duduk lebih nyaman saat pemompaan. Ga perlu lagi untuk mencondongkan badan untuk memastikan seluruh ASI masuk ke dalam botol. Duduk lebih nyaman dan tenang saat pemompaan, secara natural membantu aliran ASI lebih mudah lancar. Pengalaman saya, breastpump ini mudah banget dioperasikan satu tangan. Saya bisa memompa sembari duduk santai senderan sembari cek sosmed atau menonton tivi. Ngetik postingan ini juga sembari mompa 🙂 #IbunyamanASIlancar

F400034927-FIL-global-001

3| Praktis

Breastpump Philips Avent Comfort Manual Breast Pump SCF 330 memberikan kemudahan memadukan pemberian ASI langsung dari botol natural 125 mL karena terdapat dot untuk yang di desain khusus menyerupai bentuk payudara sehingga memudahkan perlekatan seperti menyusui langsung.

Philips Avent Comfort Manual Breast Pump SCF 330 mudah digunakan, disimpan dan dibawa karena desainnya yang ringan dan compact. Pengoperasian manualnya pun mudah.

Desain kompak memudahkannya untuk diposisikan. Pegangannya yang dibentuk secara ergonomis memberikan kenyamanan saat memegang dan kontrol penuh saat mengeluarkan ASI. Ukurannya yang kecil dan ringan, membuatnya mudah disimpan dan dibawa dan membuat memompa di perjalanan lebih nyaman.

Perakitan intuititf Philips Avent Comfort Manual Breast Pump SCF 330, mudah dipasangkan dan cocok dengan produk Philips Avent lainnya.

Cara membersihkan Philips Avent Comfort Manual Breast Pump SCF 330 pun mudah karena hanya sedikit bagian yang terpisah dan semua bagian bisa disteril dan dapat dibersikan dengan mesin cuci piring.

F400041485-FIL-global-001

Selain ketiga point tersebut, satu lagi kelebihan Philips Avent Comfort Manual Breast Pump SCF 330 adalah LDR (Let Down Reflex) yang cepat. Ini penting banget, karena kurang dari semenit, sudah terlihat kucuran ASI. Hal ini yang membuat saya semangat dan berusaha disiplin untuk memompa secara teratur demi produksi ASI yang cukup.

Juga, adanya cakram penutup untuk menutupi corong sehingga bagian dalam Philips Avent Comfort Manual Breast Pump SCF 330 tetap higienis. No more sumpel-sumpelan tisu di corong breastpump 😀

Juga, beneran bisa mengosongkan payudara! senangnya….!

Satu paket Philips Avent Comfort Manual Breast Pump SCF 330 ini berisi :

  • Pompa ASI dengan pegangan : 1pcs
  • Bantalan ukuran standar : 1 pcs
  • Botol Natural 4oz : 1 pcs
  • Dot Newborn Flow extra lembut : 1 pcs
  • Travel cover (penutup botol) : 1 pcs
  • Cakram penutup untuk  wadah penyimpan ASI : 1 pcs
  • Sampel breastpad : 2 (2 bantalan siang& 2 bantalan malam)

Harga sekitar 750K.

Untuk para ibu baru, punya breastpump Philips Avent Comfort Manual Breast Pump SCF 330 merupakan investasi berharga dan sangat amat disarankan untuk penyemangat meng-ASI.

Ayo semangat meng-ASI!!!

Temukan info lainnya di facebook dan website Philips Avent Comfort Manual Breast Pump SCF 330 

 

Kontrol 37 minggu


image

Rabu 13 Juli 2016

Control ini merupakan control pertama di bulan July 2016. Kontrol pertama setelah lebaran. Control yang biasa dilakukan hari Selasa, bergeser ke hari Rabu karena menurut dokter, kalo hari rabu atau kamis, lebih sedikit pasiennya.

oiya di kontrol kali ini, surat rujukan harus diperpanjang lagi di faskes 1 karena surat rujukan hanya berlaku 3 bulan (sejak April 2016). Alhamdulillah sih proses perpanjang surat rujukan ga nunggu lama apalagi sampe berhari2, abis itu seperti biasa, poto kopi yang banyak untuk kontrol selanjutnya.

Control kali ini lebih berdrama. Hahahaha. Biasanya kalau control malam, jam 19.30 kita sudah cao dari rumah. Kali ini baru cao dari rumah jam 20.00 pake motor baru pula. Sebenernya mah saya anti control pake motor, secara kalo udah malem itu badan udah lumayan cape sama aktivitas dari pagi sampe siang, dan kalo naik motor kan ya ga ada senderannya, pun  karena cepet2 saya lupa bawa bantal ganjelan buat duduk menanti di ruang tunggu.

Pak suami baru aja sampe rumah jam 19.45, untung ga keburu saya tinggal naik taksi online. Ditambah si Arman juga udah mulai curiga saya udah mandi cakep rapi jali pake baju pergi. Dia nanya2, “mama mau pergi?”

Pas sampe rumah pun, papanya langsung ditodong untuk ngajak arman jalan2, ke mol (alias warung terdekat naik motor dengan alasan beli susu ultra). Terpaksa dijabanin dulu beli susu ultra sembari nungguin saya selesai dandan. Setelah itu baru diungsikan ke kamar eyangnya, baru saya dan suami buru2 berangkat.

Tadinya mau naik taksi online, tapi karena waktunya udah mepet, mendingan ngebut naik motor. Bener aja di depan LIA galaxy sampe boulevard Galaxy itu macet ngantri panjang. Lantaran jalur alternative yang melewati pemukiman warga di tutup portalnya. Kebayangkan kalo pake mobil, kapan sampenya?

Sampe RS jam 20.35, bener aja, mbak2 yang jaga di counter BPJS (sekarang di ruangan depan IGD) udah mau pulang dan kunci pintu. Langsung daftar ulang kemudian timbang tensi di lantai 2, dekat ruang VK. Saya sih udah tau kalo nomor antri 10-11 itu sekitar jam 21.30. timbang 78.05 kg dan tensi 130/70 (katanya mungkin karena baru sampe, jadi ngos2an dan disuruh ulang lagi 30 menit kemudian). Abis itu melipir ke mol sebelah, GGP untuk dinner. Pak suami belum makan.

Melipir sebentar ke KFC, oh no, antriannya panjang banget, ga mungkin bisa cepet, sedangkan kita harus udah ada lagi di RS sekitar jam 21.15. mendongak ke atas, Lotteria kayanya kosong. Langsung ke Lotteria dan pesan menu yang paling cepet.

Tempat ini favorite saya, soalnya ga begitu banyak peminatnya sehingga ga perlu antri panjang. Rasanya juga cocok dilidah. Pak suami mesen special combo yang dijanjikan 7menit siap dihidangkan dan saya burger egg and cheese dengan extra note : telurnya yang matang.

Nyatanya special combonya ready hampir 15 menit dan burger saya yang sudah tersedia telurnya setengah mateng. Menyebalkan!

Setelah selesai santap malam langsung ke RS lagi. Enaknya RS deket mol, sembari nunggu antrian, sembari  jalan2 dulu.

Saya orang ketiga yang dipanggil, ternyata sebelumnya memang saya sudah dipanggil. Tapi karena saya ga ada, dilongkap dulu. Asyik kan, jadi ga nunggu lama di ruang tunggu.

Ga ada keluhan yang berarti, berat janin pun lumayan bertambah dari 2,2 kg ke 2,6 kg. Dokter nanyain saya apa saya mau usaha untuk normal? Berhubung pasien BPJS kan ya harus nurut kata dokter (nurut rekomendasi dokter) ya saya iya in ajalah. Padahal…

Masih sama seperti control sebelumnya, bahwa kalo berat janin ga bertambah, ya kemungkinan akan dilahirkan lebih awal tentunya dengan SC. Tapi kalo terus bertambah, ya ditunggu sampai mules alami sampai batas 40 minggu, kemudian baru di SC.

Obsgyn menyuruh saya untuk CTG hari ini juga dan CTG di control selanjutnya. Makkk, udah malem banget, jam 22, anak belom tidur, eh disuruh CTG dulu. Ya sudahlah.

Hasil CTG bagus. Kunjungan control selanjutnya diminta CTG dulu sebelum konsul.

Masih di resepkan DHA dan penambah darah agar tidak anemia. Berhubung udah malem banget sekitar jam 23, kasir sudah tutup dan segala transaksi dialihkan ke bagian farmasi. Menurut staf farmasi, DHA tidak discover BPJS, untuk OSfit DHA karena mengandung herbal. Tapi saya kekeuh, control sebelumnya ada cost sharing dimana setengah resep ditanggung BPJS, setengahnya lagi saya bayar sendiri. Tapi memang sih merknya bukan Osfit DHA, tapi Lactamama DHA. Staf farmasi tersebut akhirnya ngecek transaksi sebelumnya dan mau ditanyakan dulu ke BPJS. Alhasil saya belum bayar apa2 untuk control ini. Nanti akan dikabari kalau sudah mendapat konfirmasi dari BPJS. Semua berkas kopian BPJS saya masih di RS.

Baru aja dikabarin via telepon, ternyata memang benar obat2 dengan brand tersebut tidak discover BPJS, saya ditawarkan obat dengan brand lain yang discover BPJS. Kalo mau tetep dengan resep dokter, untuk 20pcs obat per itemnya, sekitar 190rb. Saya milih ngikutin resep dokter sajalah, setengah resep aja. Soalnya, masih ada sisa sebelumnya.

Yang masih deg2an ini, biaya CTG, dicover ga ya sama BPJS. Kalo ga salah sih waktu hamilnya arman, biaya CTG itu sekitar 90rb an, tapi dapet kertas hasil CTG nya ya. Semalem sama sekali ga dapet kertas print nya. Sama seperti USG, ga pernah dapet kertas print nya kecuali saya minta untuk urus BPJS janin. Hihihihi.

Semoga semuanya berjalan dengan baik. Amin.